Ketika sore itu, dia datang dengan tiba-tiba di ruang tamu nenek dengan seragam lengkapnya. Tampak perubahan yang cukup drastis dari penampilannya. Tubuhnya yang semula kurus sudah tak tampak lagi. Yang ada hanya tubuh tegap dengan wibawanya.
Nenek tiba-tiba memanggil Nanda yang sedang berjalan tergesa-gesa membawa barang yang hendak ditaruh di bagasi mobil.
"Nanda, ada tamu yang sudah menunggumu sedari tadi," begitu nenek menyapa Nanda di halaman depan.
Dari tadi memang tidak ia perhatikan kondisi sekitar depan rumah nenek karena Nanda sibuk mondar mandir melalui pintu samping rumah nenek.
"Iya nek...," sambil tergesa-gesa Nanda berjalan membawa barang yang cukup berat di tangannya.
Akhirnya selesai sudah ia mengepak barang yang akan diangkutnya besok lusa.
Nanda menghampiri ruang tamu yang kecil itu. Dengan perlengkapan sebuah meja marmer bundar dan kursi tua yang mengelilinginya, ruang tamu nenek memberikan kesan tersendiri bagi siapa saja yang memerlukan ruang privasi. Dengan raut muka yang tidak dapat disembunyikan, Nanda sangat terkejut atas kehadiran lelaki itu.
Entah sudah berapa tahun ia tidak pernah bertemu lagi dengannya.
Bak ditelan bumi, lelaki itu tidak pernah bisa dihubunginya.
Bahkan informasi yang ia cari dari sahabatnya pun tidak pernah ada.
Hanya sebatas kabar bahwa dia baik-baik saja.
Nanda dan laki-laki itu saling berpandangan.
Masing-masing melihat jauh ke dalam mata yang penuh dengan kerinduan.
Keduanya tetap diam tak bergeming.
Hanya degup jantung yang terdengar di kesunyian sore itu.
Ups... tiba-tiba saja Nanda menangkap sekelebat luka lama yang telah dipendam oleh lelaki ini darinya.
Terasa luka itu ikut menoreh dihatinya.
Dengan gugup Nanda akhirnya berkata,"Silakan duduk, Mas."
Lelaki itu pun duduk dalam diam. Meski dia sendiripun berusaha menenangkan kegalauan hatinya.
"Sudah lama ada disini?" yang dimaksud Nanda adalah kepulangan lelaki ini di kota tercintanya.
"Tidak," sahutnya pendek. "Baru kemarin, Dik," sahutnya lagi dengan tetap menyebut Nanda, adik.
"Saya hanya ingin melihatmu sebelum berangkat ke Ibukota," ujarnya tanpa basa-basi. Lelaki dengan seragam kedinasan ini akan melanjutkan sekolahnya lagi di Ibukota.
Nanda hanya bisa memandangnya. Meski didalam hati Nanda ingin berlari memeluk lelaki ini penuh hangat seperti dulu lagi. Tanpa sungkan. Ya... rasa persaudaraan yang sudah ada sejak mereka masih kanak-kanak.
Tetapi dinding pembatas itu telah berdiri kokoh.
Lelaki ini telah memilih untuk berdiri di dalamnya.
Sejak Nanda menolak pernyataan cinta yang ditawarkan olehnya.
Nanda tertunduk dalam-dalam.
Nanda berusaha menahan rasa haru yang telah menyesakkan dadanya sedari tadi.
"Nanda baik-baik saja, Mas," akhirnya Nanda menyahut dengan helaan nafas yang cukup dalam.
Keduanya kembali dalam diam. Saling menatap ke dalam lubuk hati masing-masing.
Suara adzan memecah kesunyian. Pertemuan sore itu terasa sangat singkat bagi Nanda.
Akhirnya lelaki yang dirindukannya selama bertahun-tahun itu pun berdiri untuk pamit.
"Jaga dirimu baik-baik, Mas," ujar Nanda pelan hampir tak terdengar.
"Jaga dirimu juga, Dik," balasnya kepada Nanda.
Lelaki itu berlalu dari hadapannya dengan luka lama yang masih terbuka.
Tetapi sekali lagi Nanda hanya diam. "Maafkan aku, Mas..," ujarnya dalam hati. Nanda tidak bisa menerima cintanya karena lelaki ini terlalu berharga bagi dirinya.
Thursday, February 28, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
2 comments:
Gak nyangka, lu bs bwt cerpen yaaa?
Btw, itu kisah nyata bukan? ;)
Hah?!? kok bisa?
hehehe...
Post a Comment