Tuesday, August 12, 2008

Bertemunya 2 hati

Jalanan yang terjal penuh dengan akar-akar pohon yang terjulur dan tanah merah yang licin membuat perjalanan pendakian kali ini dirasakan berat bagi Siska. Terlebih dengan adanya permusuhan antara dirinya dengan Bimo, sang ketua rombongan pendakian massal. Bila diingat, rasanya tak perlu terjadi permusuhan ini. Hanya gara-gara adu argumen dalam laporan kegiatan pameran foto lalu, semuanya jadi berantakan.

Entah darimana datangnya semua pertanyaan itu. Bimo yang terkenal dengan sikapnya pendiam dan cuek, hari itu penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan Siska.
"Apa kerjamu Sis?"
"Kemarin kemana saja? shopping?"
Dan sederet pertanyaan lainnya.

Kulit halus Siska yang cukup putih itu, tentu tidak dapat lagi menyembunyikan warna merah mukanya. Meski begitu, Siska tetap bersikap tenang dan berusaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Bimo. Sekuat tenaga ditahannya bendungan air yang ada disudut matanya.

Dan berhari-hari, sejak peristiwa itu Siska jadi malas untuk menegur Bimo. Hal yang sama rupanya dilakukan Bimo terhadap Siska. Dia hanya melihat sekilas bila Siska lewat atau menyapa teman-teman lain dalam perkumpulan pencinta alam. Bila memerlukan komunikasi untuk kegiatan pendakian massal ini pun, Siska berusaha untuk tidak menanyakan langsung pada Bimo. Beruntung kali ini ia tidak menjadi koordinator dalam teamnya Bimo.

Berjalan bersama dengan rombongan yang lain, salah satu cara agar Siska tidak berdekatan dengan Bimo. Meski kadang mereka saling bertatap, masing-masing bersikap seolah tidak pernah memperhatikan lawannya.

Akhirnya perjalanan panjang ini sampai juga di padang Edelwise. Udara dingin yang menusuk ke dalam tubuhnya, membuat Siska ragu untuk terus melanjutkan perjalanan mencapai puncak Gede. Ini bukan pendakian yang pertama baginya. Dan menurut Siska, padang Edelwise inilah puncak dari Gunung Gede. Terlebih dengan hati yang masih galau. Ia lebih suka memandang kelopak-kelopak bunga yang berterbangan tertiup angin gunung. Ia selalu merindukan bunga-bunga putih kecil yang terhampar di padang ini.

Tanpa disadarinya, sosok Bimo telah berdiri dibelakangnya. Entah sudah berapa lama, Bimo ikut diam disitu. Ketika Siska terkejut, tanpa diduga tangan Bimo telah menggenggam jarinya. Udara hangat tiba-tiba menjalar begitu saja dalam darahnya. Dan sekejap Siska telah melihat perubahan pada Bimo. Bimo menggenggam dirinya dengan pandangan rindu, seakan tak ingin melepaskannya.

"Maafkan aku, Sis. Selama ini sulit bagiku untuk bisa berterus terang kepadamu. Kejadian lalu dan sikapku selama ini membuat dirimu susah. Aku sebenarnya hanya ingin mengetahui dirimu lebih jauh. Tapi aku selalu takut. Takut... bila kau mengecewakanku." Suara berat Bimo hanya mampu membuat Siska berdiam diri.

"Aku bersama beberapa teman sengaja membuat sandiwara ini."

"Aku juga tahu dari Nita, ternyata kau sangat menderita."

"Nita?" Waduh.... apalagi yang diceritakan Nita 'kuncrit' pada Bimo? Siska hanya bertanya-tanya dalam hati. Tahukah ia perasaan hatinya pada Bimo? karena hanya pada Nita-lah Siska mau menceritakan isi hatinya. Betapa ia sangat mengagumi Bimo sejak ia duduk di tingkat pertama.

"Nita banyak bercerita mengenai dirimu. Dan aku sengaja tidak pernah bertanya langsung pada Nita didepanmu."

"Maukah kau memaafkanku?"
"Dan menjadikan kau sebagai bunga Edelwiseku..."

Siska tak dapat lagi membendung air matanya. Semua perasaan galaunya hilang bersama hembusan angin. Dalam pelukan hangat tangan Bimo, air mata Siska tidak terbendung lagi. Disematkannya bunga putih kecil itu ditelinga Siska.

35

Apa arti angka ini bagi anda? Mungkin tidak ada. Tapi banyak hal yang telah dilewati selama hidup ini. Menangis, tertawa, sedih, gembira, marah, dendam, rindu, benci, sayang, kangen, semuanya telah dialami. Entah itu dilalui dengan kesendirian maupun bersama orang-orang terkasih. Dan.... sepanjang masih diberi umur, ingin kulewati hari-hariku dengan penuh syukur dan suka cita