Selepas pentas seni dan pembagian raport Sabtu kemarin (21 Juni 2008), lega sudah perasaanku sebagai ibu dari anak yang duduk di kelas 1 Sekolah Dasar. Maklum ini pengalaman pertama menghadapi anak yang ikut ujian kenaikan kelas. Lah... gimana ga stress, ketika ujian tiba anakku lagi senang-senangnya main game. Alhasil setiap belajar, pasti ada saja negosiasi soal pilihan. Main game dulu baru belajar, atau habis belajar kemudian main game. Ihiks....!!!
Beberapa kali permintaannya tidak kukabulkan. Ujung-ujungnya pasti dia nangis. Weleh-weleh... padahal pelajaran sekarang sangat berbeda dengan pelajaran waktu kita kecil dulu. Jaman 'kuda gigit batu'. Eh, sejak kapan kuda suka makan batu ya? Hehehehe... Tapi syukur alhamdulillah, perjuangan yang berat selama seminggu bisa dilewati dengan hasil yang memuaskan (menurut saya loh... ga tau menurut yang lain, karena sekarang sistemnya pakai kompetensi dan tidak ada rangking sehingga tidak tahu juga nilainya mau dibandingkan dengan siapa).
Sukacitanya sang Kakak ketika tahu liburan telah datang. Itulah waktu yang dinanti-nantikannya. Jauh hari, dia sudah mengundang tante-tantenya untuk main ke BSD dan janji mengajak mereka ke OP. Termasuk ke-2 eyangnya, sekaligus sebagai hadiah ulang tahun untuk eyang istri-(uti, red)nya. Berenang dan bermain air sepuasnya....
Sepulang dari kerja, kulihat mukanya sudah gosong. Sama dengan tante-tantenya. Tapi seperti biasa, wajah bulatnya yang manis, berlalu begitu saja. Alias cuek beybek ketika kutanya soal warna kulitnya yang berubah menjadi legam. Dasar unyil...
Puas main di OP, keesokan harinya kami pergi ke Bogor. Mengunjungi keluarga yang ada di sana, maklum eyangnya belum terbiasa di jalan tol. Jadi harus ada navigator :). Ternyata tante kecil di Bogor juga ikut bergabung dalam liburan kali ini. Berlibur ke rumah eyang di Cirebon.
Sore harinya, setelah bersih-bersih dan makan malam, rombongan krucil siap-siap membereskan perlengkapannya. Tak ketinggalan jagoanku, Boy. Dengan bagpack 'Ben10'(baca Ben Ten)-nya dia sibuk memasukkan berbagai mainan yang akan dibawanya berlibur. Tak ketinggalan juga topi 'Ben10', souvenir ulang tahun teman sekelasnya. Lengkap sudah hiruk pikuk para krucil di rumah ini!
Pagi tadi, dengan kondisi masih mengantuk dan badan pegal-pegal, kusiapkan nasi goreng kesukaan mereka serta susu hangat sebagai penutup sarapan. Tak ketinggalan snack, dan burger bikinan sendiri sebagai cadangan logistik selama di kereta.
Akhirnya taksi yang kupesan datang juga, jam 07.45 wib. Setelah pamit, mereka berebut menaruh tasnya masing-masing di bagasi mobil (taksi), seakan-akan takut tertinggal. Taksi pun pergi, membawa mereka menuju Stasiun Gambir. Libur t'lah tiba....
Thursday, June 26, 2008
Friday, June 13, 2008
Album Kenangan
Hari ini merupakan jadwal kami sebagai orang tua bertatap muka dengan gurunya Boy untuk membahas perkembangan dia selama setengah semester terakhir ini. Sebelumnya pihak sekolah telah mengirimkan terlebih dahulu raport hasil belajar Boy selama satu tahun di Playgroup Al-Fath.
Sungguh di luar dugaan kami, ketika sebelum berangkat, kami mencoba menyempatkan terlebih dahulu melihat hasil raportnya. Ternyata Boy mengalami perubahan yang signifikan dari semester sebelumnya.
Hampir semua kegiatan atau pelajarannya mendapat nilai O atau outstanding. Maklum di sekolah ini menggunakan dwi bahasa sehingga dalam pemberian nilaipun menggunakan bahasa Inggris.
Sesampainya di sekolah, kami langsung masuk ke ruang kelasnya dan bertemu dengan guru kelas serta guru pendampingnya. Berbeda dengan pertemuan di semester pertama, pertemuan kali ini saya merasa terharu mengingat begitu banyaknya perubahan yang telah dicapai oleh Boy. Dari semula tidak pernah berbicara banyak, tidak pernah mau mengikuti kegiatan motorik kasar dan tidak pernah kenal nama teman-temannya (karena pada dasarnya dia lebih suka mengamati) sampai akhirnya dia dapat mengerjakan semuanya dengan hasil yang memuaskan. Seringkali sepulang dari kantor, dia langsung menghentikan saya di depan pintu untuk mendengarkan pengalamannya di sekolah. Entah karena mereka lucu, ada komentar guru yang menarik baginya, atau sekedar meminjamkan mainan yang kerap dia bawa ke sekolah untuk bermain bersama temannya, menjadikan bahan pembicaraan yang 'seru' di malam hari.
Yang menarik bagi saya selain hasil kegiatan belajarnya di Playgroup, kami juga mendapatkan Album Kenangan berupa buku setengah folio yang berisi foto-foto guru, guru pendamping serta tentu saja krucil-krucil yang lucu dan imut. Guru-guru menuangkan pesan-pesan pendek yang menjadi simbol motivasi bagi anak didiknya agar mereka harus rajin belajar. Sisi lain dari murid-muridnya, terpampang foto-foto mereka dengan berbagai gaya dan biodatanya. Yang menarik bagi saya, tentu saja cita-cita yang ingin mereka wujudkan. Entah itu memang profesi yang selama ini telah ada dan dikenal oleh mereka atau pun 'profesi' yang ada dalam khayalan mereka.
Simak saja cita-cita dari mereka. Menurut Rakha, dia bercita-cita ingin menjadi Power Rangers. Ultramen merupakan cita-cita dari Bisma. Daffa juga mau jadi Spiderman. Aisyah bercita-cita menjadi Barbie. Hana dan Nadya, memilih menjadi Princess atau seperti Ashillah yang ingin jadi model. Lain halnya dengan Hanif, dia ingin menjadi penjual kartu. Entah apa maksudnya... atau sebenarnya saat ini dia sedang senang bermain dan mengkoleksi berbagai kartu dengan gambar atau tokoh yang disukainya. Arvin memilih menjadi dalang. Ayik bercita-cita ingin seperti mamanya. Mungkin dia sangat menyanyangi dan mengidolakan mamanya. Ada juga yang ingin menjadi anak sholeh.
Boy sendiri bercita-cita ingin menjadi guru. Itu jawaban yang diberikan ketika pihak sekolah menyebarkan angket sebagai bahan untuk Album Kenangan ini. Dia sangat mengidolakan gurunya, Miss. Dewi. Menurutnya miss Dewi 'bicaranya bagus' ketika salah satu bagian dari angket menanyakan alasan dalam memilih guru yang diidolakannya. Hanya 3 anak yang bercita-cita menjadi guru. Selebihnya profesi yang umumnya sudah dikenal atau mencontoh profesi orang tuanya seperti dokter, pilot, engineer, suster, astronot dan sebagainya.
Saya tidak ingin berpanjang lebar membahas profesi ini. Tapi dari Album Kenangan inilah sebetulnya saya melihat kepolosan anak-anak. Anak-anak yang benar-benar putih (polos) seperti kertas yang siap kita 'isi' dengan lukisan. Bagaimana bentuk lukisan itu menjadi indah dan berharga di lain waktu, menjadi tanggung jawab dan amanah yang harus kita emban sebagai orang tua.
Terima kasih 'guruku'.
Subscribe to:
Posts (Atom)