Kejadiannya memang sudah lama tapi ternyata itu sangat membekas di benak dan hatiku. Ketika suatu saat, saya dan teman akrab membicarakan teman yang sedang menumpang istirahat di rumah kostan kami yang mungil. Ditengah-tengah perbincangan, tiba-tiba teman yang 'disangka' tidur ikut nimbrung dalam perbincangan tsb.
Awalnya kami cukup kaget, mengingat yang jadi topik saat itu adalah 'calon' pacar yang kala itu cukup banyak. Lah... wong yang PDKT ada 3 orang jeh... Intinya saya dan teman akrab mencoba melihat sisi yang berbeda; dengan kata lain mencoba membandingkan lelaki mana yang lebih cocok untuk teman ini. Padahal belum tentu benar apa yang kita perbincangkan waktu itu. Yah... ga jauh-jauh, jatuhnya jadi seperti menggosip, memang.
Kejadian yang sama akhirnya terulang kepada diri sendir. Karma? I don't know... tapi ketika itu saya sebenarnya sudah malas dengan kegiatan tahunan yang rutin dilakukan, dengan parameter yang dibuat mengambang dan hasil yang kurang jelas. Menurut kacamata kuda yang saya pakai loh.... Alih-alih prosedur dan sistem berjalan on the track, ternyata seringkali excuse diberikan kepada orang-orang yang bertanggung jawab terhadap hasil akhir. Manajemen pertemanan, begitu kata teman lamaku.
Ditengah genggap gempita pembahasan (tahunan) yang memanas di malam yang dingin, rasa kantuk tidak tertahankan lagi. Akhirnya mata terpejam dengan suksesnya. Entah dari mana datangnya indra pendengaran yang tajam, layaknya seekor anjing menegakkan telinga ketika mendengar suara yang mencurigakan, tiba-tiba suara yang tidak asing lagi membahas persoalan diri. Ketidaksukaan sang jumawa ketika itu, terbukti. Ditengah kabut malam yang turun perlahan, suara-suara kebencian begitu jelas mengusap daun telinga yang sedang asyik dalam posisi istirahat. Apa yang kurasakan dan kualami selama ini, ternyata benar adanya.
"Kalau orang tidak suka, tidak bisa dipaksakan harus suka", begitu selalu yang dikatakan sang jumawa ketika entah dari mana perbincangan itu diawali, akhir perbincangan selalu ditutup dengan kata manis yang menyayat hati.
Yach... teman seperti layaknya 2 mata pisau, jika dipergunakan dengan benar dia kan bermanfaat, tapi jika digunakan dengan tidak hati-hati maka bekas sayatan akan tetap tersisa....
Tuesday, December 15, 2009
Subscribe to:
Posts (Atom)