Tuesday, December 15, 2009

Friend - episode 1

Kejadiannya memang sudah lama tapi ternyata itu sangat membekas di benak dan hatiku. Ketika suatu saat, saya dan teman akrab membicarakan teman yang sedang menumpang istirahat di rumah kostan kami yang mungil. Ditengah-tengah perbincangan, tiba-tiba teman yang 'disangka' tidur ikut nimbrung dalam perbincangan tsb.

Awalnya kami cukup kaget, mengingat yang jadi topik saat itu adalah 'calon' pacar yang kala itu cukup banyak. Lah... wong yang PDKT ada 3 orang jeh... Intinya saya dan teman akrab mencoba melihat sisi yang berbeda; dengan kata lain mencoba membandingkan lelaki mana yang lebih cocok untuk teman ini. Padahal belum tentu benar apa yang kita perbincangkan waktu itu. Yah... ga jauh-jauh, jatuhnya jadi seperti menggosip, memang.

Kejadian yang sama akhirnya terulang kepada diri sendir. Karma? I don't know... tapi ketika itu saya sebenarnya sudah malas dengan kegiatan tahunan yang rutin dilakukan, dengan parameter yang dibuat mengambang dan hasil yang kurang jelas. Menurut kacamata kuda yang saya pakai loh.... Alih-alih prosedur dan sistem berjalan on the track, ternyata seringkali excuse diberikan kepada orang-orang yang bertanggung jawab terhadap hasil akhir. Manajemen pertemanan, begitu kata teman lamaku.

Ditengah genggap gempita pembahasan (tahunan) yang memanas di malam yang dingin, rasa kantuk tidak tertahankan lagi. Akhirnya mata terpejam dengan suksesnya. Entah dari mana datangnya indra pendengaran yang tajam, layaknya seekor anjing menegakkan telinga ketika mendengar suara yang mencurigakan, tiba-tiba suara yang tidak asing lagi membahas persoalan diri. Ketidaksukaan sang jumawa ketika itu, terbukti. Ditengah kabut malam yang turun perlahan, suara-suara kebencian begitu jelas mengusap daun telinga yang sedang asyik dalam posisi istirahat. Apa yang kurasakan dan kualami selama ini, ternyata benar adanya.

"Kalau orang tidak suka, tidak bisa dipaksakan harus suka", begitu selalu yang dikatakan sang jumawa ketika entah dari mana perbincangan itu diawali, akhir perbincangan selalu ditutup dengan kata manis yang menyayat hati.

Yach... teman seperti layaknya 2 mata pisau, jika dipergunakan dengan benar dia kan bermanfaat, tapi jika digunakan dengan tidak hati-hati maka bekas sayatan akan tetap tersisa....

Wednesday, October 22, 2008

Wadouuuuwwww...

Beberapa hari lalu, teman saya dari Malang mengabari mau datang ke Jakarta, sehubungan dengan pekerjaannya. Di angan-angan sih... sudah terbayang akan serunya ngobrol bareng dia. Karena memang dia orang yang paling ramai jika sudah nyambung di telepon (sebagian percakapan kami memang lewat telepon).

Akhirnya dia datang juga hari ini. Kabarnya bersama suami tercintanya. Wah... terbayang sudah bisa bertemu lagi sama teman jauh. Karena kami memang baru 1 (satu) kali bertemu, itupun ketika saya ditugaskan pertama kali ke Malang dari kantor (yang terakhir). Sudah hampir 1 (satu) tahun yang lalu (tepatnya bulan November nanti).

Saya pikir setelah rumah di'puting beliung'kan, besok atau lusa bisa mengajak dia untuk menginap disini. Setidaknya tugas kantor pun sudah cukup longgar untuk 1 atau 2 hari mendatang. Tapi, sesiangan tadi sempet iseng juga, akhirnya saya mengirim sms menanyakan kabarnya.
"Sampai jam berapa?"
"Menginap di mana?"
"Sampai kapan?"

Belum pula dijawabnya smsku, sore tadi dia hanya menelpon singkat.
"Ini aku, Teh (panggilan untuk saya di kantor ini, Teteh). Sudah sampai. Sekarang lagi makan sama teman-teman. Nanti disambung lagi."

Weks... sesingkat itu?
Akhirnya dengan masih penasaran, kukirimi lagi sms.
"Kapan mau mampir ke rumah?"
"Kabari kalau mau ke sini ya."
"Ditunggu..."

Demikian pesan singkatku. Mengingat rumah masih dalam kondisi underconstruction, maka sms di atas bisa dijadikan alarm bagi saya untuk bebenah. Namun, sekali lagi smsku tidak dijawabnya. Maka dengan tenang kukeluarkanlah semua PR yang masih menumpuk di kamar anak, setrikaan baju yang segunung. Maklum sudah 3 (tiga) hari ini praktis pekerjaan tersebut tidak bisa dilakukan. Underconstruction jeh...

Jarum jam hampir menunjukkan angka 9 (sembilan). Si kakak minta shalat Isya bersama (bukan berarti berjamaah loh... karena dia lebih suka shalat sendiri-sendiri ^_^). Menjelang rakaat ke-2, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.
"Assalamu'alaikum....."
"Teh...."
"Teteh..."
Dan tak lama klakson jail pun ikut meramaikan teriakan-teriakan sember (^_^) sebelumnya.

"Allahu Akbar"
"Samiallahu liman hamidah"
"Allahu Akbar"
Tak kalah nyaring suara dari dalam pun memberikan jawaban. Namun nampaknya tak terdengar oleh teman-teman di depan.

Akhirnya shalat pun ditutup dengan salam. Langsung bergegas membukakan pintu sebelum mereka pergi.
"Bentar... sebentar yaa...."
Masih dengan mukena yang menempel di tubuh, kubukakan pintu rumah.
"Kak... tolong bukakan pintu pagarnya, ya..."

Bergegas - bak akan ada banjir bandang - semua pekerjaan PR tadi diangkut dan dilemparkan ke tempat tidur anakku.
"Wadouuuuwwww............."
Seperti kapal pecah neh...
Mau gimana lagi, akhirnya sebagian sudah berhasil disembunyikan dengan sukses. Meski masih ada ceceran buku-buku yang belum dirapikan. Juga (termasuk) seperangkat sprei yang akan masuk mesin cuci, masih teronggok di depan kamar.

Akhirnya kami duduk seadanya, dengan camilan seadanya karena kue-kue lebaran telah habis dari kemarin dulu. Masih ada sisa sih... itupun dibuat pada hari terakhir sebelum mudik. Kuenya tidak sempat lagi diolesi kuning telur dan bentuknya yang aneh menjadi kue paling ajaib di lebaran kemarin. Untung cuma 1 toples. Heueheuheu...
Dan karena mereka hanya sebentar, akhirnya minuman pun tak jadi disuguhkan. Atau sebenarnya mereka penuh pengertian? Heueheuheu....

Meski dengan kondisi underconstruction, mereka teuteup pengen keliling rumah. Wuah.... kayak rumah yang gede ajah. Padahal rumah ini cuma tipe 4L (Lu Lagi, Lu Lagi). Kalau lagi ramai bisa berubah jadi gang kelinci, senggol sana senggol sini. Heuheuheu....

Ngobrol sana ngobrol sini, akhirnya teman-teman pamitan. Temanku cuma bilang;
"Tolong doakan aku ya, Teh. Tanggal 10 nanti aku mau berangkat."

Weks...
"Tanggal 10?"

"Iya, aku dapat jatah berangkat haji tanggal 10 nanti"

Baru teringat olehku kalau temanku ini akan pergi haji tahun ini. Tapi tak diduga akan secepat ini berangkatnya.
"Memang dapet kloter berapa?" tanyaku

"Kloter pertama"

"O...."
"Titip doakan aku disana ya, coming soon." jawabku dengan semangat.

Yaa... cita-cita yang aku impikan sejak ramadhan tahun lalu; berangkat ke tanah suci.
Bersyukur temanku ini, dalam usia yang masih muda, sudah dapat kesempatan untuk pergi ke tanah suci.

Subhanallahu...

Dedicated to my friend TNM, yang memiliki motivasi tinggi untuk bersabar dan bertawakal.

Tuesday, August 12, 2008

Bertemunya 2 hati

Jalanan yang terjal penuh dengan akar-akar pohon yang terjulur dan tanah merah yang licin membuat perjalanan pendakian kali ini dirasakan berat bagi Siska. Terlebih dengan adanya permusuhan antara dirinya dengan Bimo, sang ketua rombongan pendakian massal. Bila diingat, rasanya tak perlu terjadi permusuhan ini. Hanya gara-gara adu argumen dalam laporan kegiatan pameran foto lalu, semuanya jadi berantakan.

Entah darimana datangnya semua pertanyaan itu. Bimo yang terkenal dengan sikapnya pendiam dan cuek, hari itu penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan Siska.
"Apa kerjamu Sis?"
"Kemarin kemana saja? shopping?"
Dan sederet pertanyaan lainnya.

Kulit halus Siska yang cukup putih itu, tentu tidak dapat lagi menyembunyikan warna merah mukanya. Meski begitu, Siska tetap bersikap tenang dan berusaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Bimo. Sekuat tenaga ditahannya bendungan air yang ada disudut matanya.

Dan berhari-hari, sejak peristiwa itu Siska jadi malas untuk menegur Bimo. Hal yang sama rupanya dilakukan Bimo terhadap Siska. Dia hanya melihat sekilas bila Siska lewat atau menyapa teman-teman lain dalam perkumpulan pencinta alam. Bila memerlukan komunikasi untuk kegiatan pendakian massal ini pun, Siska berusaha untuk tidak menanyakan langsung pada Bimo. Beruntung kali ini ia tidak menjadi koordinator dalam teamnya Bimo.

Berjalan bersama dengan rombongan yang lain, salah satu cara agar Siska tidak berdekatan dengan Bimo. Meski kadang mereka saling bertatap, masing-masing bersikap seolah tidak pernah memperhatikan lawannya.

Akhirnya perjalanan panjang ini sampai juga di padang Edelwise. Udara dingin yang menusuk ke dalam tubuhnya, membuat Siska ragu untuk terus melanjutkan perjalanan mencapai puncak Gede. Ini bukan pendakian yang pertama baginya. Dan menurut Siska, padang Edelwise inilah puncak dari Gunung Gede. Terlebih dengan hati yang masih galau. Ia lebih suka memandang kelopak-kelopak bunga yang berterbangan tertiup angin gunung. Ia selalu merindukan bunga-bunga putih kecil yang terhampar di padang ini.

Tanpa disadarinya, sosok Bimo telah berdiri dibelakangnya. Entah sudah berapa lama, Bimo ikut diam disitu. Ketika Siska terkejut, tanpa diduga tangan Bimo telah menggenggam jarinya. Udara hangat tiba-tiba menjalar begitu saja dalam darahnya. Dan sekejap Siska telah melihat perubahan pada Bimo. Bimo menggenggam dirinya dengan pandangan rindu, seakan tak ingin melepaskannya.

"Maafkan aku, Sis. Selama ini sulit bagiku untuk bisa berterus terang kepadamu. Kejadian lalu dan sikapku selama ini membuat dirimu susah. Aku sebenarnya hanya ingin mengetahui dirimu lebih jauh. Tapi aku selalu takut. Takut... bila kau mengecewakanku." Suara berat Bimo hanya mampu membuat Siska berdiam diri.

"Aku bersama beberapa teman sengaja membuat sandiwara ini."

"Aku juga tahu dari Nita, ternyata kau sangat menderita."

"Nita?" Waduh.... apalagi yang diceritakan Nita 'kuncrit' pada Bimo? Siska hanya bertanya-tanya dalam hati. Tahukah ia perasaan hatinya pada Bimo? karena hanya pada Nita-lah Siska mau menceritakan isi hatinya. Betapa ia sangat mengagumi Bimo sejak ia duduk di tingkat pertama.

"Nita banyak bercerita mengenai dirimu. Dan aku sengaja tidak pernah bertanya langsung pada Nita didepanmu."

"Maukah kau memaafkanku?"
"Dan menjadikan kau sebagai bunga Edelwiseku..."

Siska tak dapat lagi membendung air matanya. Semua perasaan galaunya hilang bersama hembusan angin. Dalam pelukan hangat tangan Bimo, air mata Siska tidak terbendung lagi. Disematkannya bunga putih kecil itu ditelinga Siska.

35

Apa arti angka ini bagi anda? Mungkin tidak ada. Tapi banyak hal yang telah dilewati selama hidup ini. Menangis, tertawa, sedih, gembira, marah, dendam, rindu, benci, sayang, kangen, semuanya telah dialami. Entah itu dilalui dengan kesendirian maupun bersama orang-orang terkasih. Dan.... sepanjang masih diberi umur, ingin kulewati hari-hariku dengan penuh syukur dan suka cita

Thursday, June 26, 2008

Libur T'lah Tiba

Selepas pentas seni dan pembagian raport Sabtu kemarin (21 Juni 2008), lega sudah perasaanku sebagai ibu dari anak yang duduk di kelas 1 Sekolah Dasar. Maklum ini pengalaman pertama menghadapi anak yang ikut ujian kenaikan kelas. Lah... gimana ga stress, ketika ujian tiba anakku lagi senang-senangnya main game. Alhasil setiap belajar, pasti ada saja negosiasi soal pilihan. Main game dulu baru belajar, atau habis belajar kemudian main game. Ihiks....!!!

Beberapa kali permintaannya tidak kukabulkan. Ujung-ujungnya pasti dia nangis. Weleh-weleh... padahal pelajaran sekarang sangat berbeda dengan pelajaran waktu kita kecil dulu. Jaman 'kuda gigit batu'. Eh, sejak kapan kuda suka makan batu ya? Hehehehe... Tapi syukur alhamdulillah, perjuangan yang berat selama seminggu bisa dilewati dengan hasil yang memuaskan (menurut saya loh... ga tau menurut yang lain, karena sekarang sistemnya pakai kompetensi dan tidak ada rangking sehingga tidak tahu juga nilainya mau dibandingkan dengan siapa).

Sukacitanya sang Kakak ketika tahu liburan telah datang. Itulah waktu yang dinanti-nantikannya. Jauh hari, dia sudah mengundang tante-tantenya untuk main ke BSD dan janji mengajak mereka ke OP. Termasuk ke-2 eyangnya, sekaligus sebagai hadiah ulang tahun untuk eyang istri-(uti, red)nya. Berenang dan bermain air sepuasnya....

Sepulang dari kerja, kulihat mukanya sudah gosong. Sama dengan tante-tantenya. Tapi seperti biasa, wajah bulatnya yang manis, berlalu begitu saja. Alias cuek beybek ketika kutanya soal warna kulitnya yang berubah menjadi legam. Dasar unyil...

Puas main di OP, keesokan harinya kami pergi ke Bogor. Mengunjungi keluarga yang ada di sana, maklum eyangnya belum terbiasa di jalan tol. Jadi harus ada navigator :). Ternyata tante kecil di Bogor juga ikut bergabung dalam liburan kali ini. Berlibur ke rumah eyang di Cirebon.

Sore harinya, setelah bersih-bersih dan makan malam, rombongan krucil siap-siap membereskan perlengkapannya. Tak ketinggalan jagoanku, Boy. Dengan bagpack 'Ben10'(baca Ben Ten)-nya dia sibuk memasukkan berbagai mainan yang akan dibawanya berlibur. Tak ketinggalan juga topi 'Ben10', souvenir ulang tahun teman sekelasnya. Lengkap sudah hiruk pikuk para krucil di rumah ini!

Pagi tadi, dengan kondisi masih mengantuk dan badan pegal-pegal, kusiapkan nasi goreng kesukaan mereka serta susu hangat sebagai penutup sarapan. Tak ketinggalan snack, dan burger bikinan sendiri sebagai cadangan logistik selama di kereta.

Akhirnya taksi yang kupesan datang juga, jam 07.45 wib. Setelah pamit, mereka berebut menaruh tasnya masing-masing di bagasi mobil (taksi), seakan-akan takut tertinggal. Taksi pun pergi, membawa mereka menuju Stasiun Gambir. Libur t'lah tiba....

Friday, June 13, 2008

Album Kenangan



Hari ini merupakan jadwal kami sebagai orang tua bertatap muka dengan gurunya Boy untuk membahas perkembangan dia selama setengah semester terakhir ini. Sebelumnya pihak sekolah telah mengirimkan terlebih dahulu raport hasil belajar Boy selama satu tahun di Playgroup Al-Fath.

Sungguh di luar dugaan kami, ketika sebelum berangkat, kami mencoba menyempatkan terlebih dahulu melihat hasil raportnya. Ternyata Boy mengalami perubahan yang signifikan dari semester sebelumnya.

Hampir semua kegiatan atau pelajarannya mendapat nilai O atau outstanding. Maklum di sekolah ini menggunakan dwi bahasa sehingga dalam pemberian nilaipun menggunakan bahasa Inggris.

Sesampainya di sekolah, kami langsung masuk ke ruang kelasnya dan bertemu dengan guru kelas serta guru pendampingnya. Berbeda dengan pertemuan di semester pertama, pertemuan kali ini saya merasa terharu mengingat begitu banyaknya perubahan yang telah dicapai oleh Boy. Dari semula tidak pernah berbicara banyak, tidak pernah mau mengikuti kegiatan motorik kasar dan tidak pernah kenal nama teman-temannya (karena pada dasarnya dia lebih suka mengamati) sampai akhirnya dia dapat mengerjakan semuanya dengan hasil yang memuaskan. Seringkali sepulang dari kantor, dia langsung menghentikan saya di depan pintu untuk mendengarkan pengalamannya di sekolah. Entah karena mereka lucu, ada komentar guru yang menarik baginya, atau sekedar meminjamkan mainan yang kerap dia bawa ke sekolah untuk bermain bersama temannya, menjadikan bahan pembicaraan yang 'seru' di malam hari.

Yang menarik bagi saya selain hasil kegiatan belajarnya di Playgroup, kami juga mendapatkan Album Kenangan berupa buku setengah folio yang berisi foto-foto guru, guru pendamping serta tentu saja krucil-krucil yang lucu dan imut. Guru-guru menuangkan pesan-pesan pendek yang menjadi simbol motivasi bagi anak didiknya agar mereka harus rajin belajar. Sisi lain dari murid-muridnya, terpampang foto-foto mereka dengan berbagai gaya dan biodatanya. Yang menarik bagi saya, tentu saja cita-cita yang ingin mereka wujudkan. Entah itu memang profesi yang selama ini telah ada dan dikenal oleh mereka atau pun 'profesi' yang ada dalam khayalan mereka.

Simak saja cita-cita dari mereka. Menurut Rakha, dia bercita-cita ingin menjadi Power Rangers. Ultramen merupakan cita-cita dari Bisma. Daffa juga mau jadi Spiderman. Aisyah bercita-cita menjadi Barbie. Hana dan Nadya, memilih menjadi Princess atau seperti Ashillah yang ingin jadi model. Lain halnya dengan Hanif, dia ingin menjadi penjual kartu. Entah apa maksudnya... atau sebenarnya saat ini dia sedang senang bermain dan mengkoleksi berbagai kartu dengan gambar atau tokoh yang disukainya. Arvin memilih menjadi dalang. Ayik bercita-cita ingin seperti mamanya. Mungkin dia sangat menyanyangi dan mengidolakan mamanya. Ada juga yang ingin menjadi anak sholeh.

Boy sendiri bercita-cita ingin menjadi guru. Itu jawaban yang diberikan ketika pihak sekolah menyebarkan angket sebagai bahan untuk Album Kenangan ini. Dia sangat mengidolakan gurunya, Miss. Dewi. Menurutnya miss Dewi 'bicaranya bagus' ketika salah satu bagian dari angket menanyakan alasan dalam memilih guru yang diidolakannya. Hanya 3 anak yang bercita-cita menjadi guru. Selebihnya profesi yang umumnya sudah dikenal atau mencontoh profesi orang tuanya seperti dokter, pilot, engineer, suster, astronot dan sebagainya.

Saya tidak ingin berpanjang lebar membahas profesi ini. Tapi dari Album Kenangan inilah sebetulnya saya melihat kepolosan anak-anak. Anak-anak yang benar-benar putih (polos) seperti kertas yang siap kita 'isi' dengan lukisan. Bagaimana bentuk lukisan itu menjadi indah dan berharga di lain waktu, menjadi tanggung jawab dan amanah yang harus kita emban sebagai orang tua.

Terima kasih 'guruku'.

Thursday, February 28, 2008

Kapten Zein

Ketika sore itu, dia datang dengan tiba-tiba di ruang tamu nenek dengan seragam lengkapnya. Tampak perubahan yang cukup drastis dari penampilannya. Tubuhnya yang semula kurus sudah tak tampak lagi. Yang ada hanya tubuh tegap dengan wibawanya.
Nenek tiba-tiba memanggil Nanda yang sedang berjalan tergesa-gesa membawa barang yang hendak ditaruh di bagasi mobil.
"Nanda, ada tamu yang sudah menunggumu sedari tadi," begitu nenek menyapa Nanda di halaman depan.
Dari tadi memang tidak ia perhatikan kondisi sekitar depan rumah nenek karena Nanda sibuk mondar mandir melalui pintu samping rumah nenek.
"Iya nek...," sambil tergesa-gesa Nanda berjalan membawa barang yang cukup berat di tangannya.
Akhirnya selesai sudah ia mengepak barang yang akan diangkutnya besok lusa.
Nanda menghampiri ruang tamu yang kecil itu. Dengan perlengkapan sebuah meja marmer bundar dan kursi tua yang mengelilinginya, ruang tamu nenek memberikan kesan tersendiri bagi siapa saja yang memerlukan ruang privasi. Dengan raut muka yang tidak dapat disembunyikan, Nanda sangat terkejut atas kehadiran lelaki itu.
Entah sudah berapa tahun ia tidak pernah bertemu lagi dengannya.
Bak ditelan bumi, lelaki itu tidak pernah bisa dihubunginya.
Bahkan informasi yang ia cari dari sahabatnya pun tidak pernah ada.
Hanya sebatas kabar bahwa dia baik-baik saja.
Nanda dan laki-laki itu saling berpandangan.
Masing-masing melihat jauh ke dalam mata yang penuh dengan kerinduan.
Keduanya tetap diam tak bergeming.
Hanya degup jantung yang terdengar di kesunyian sore itu.
Ups... tiba-tiba saja Nanda menangkap sekelebat luka lama yang telah dipendam oleh lelaki ini darinya.
Terasa luka itu ikut menoreh dihatinya.
Dengan gugup Nanda akhirnya berkata,"Silakan duduk, Mas."
Lelaki itu pun duduk dalam diam. Meski dia sendiripun berusaha menenangkan kegalauan hatinya.
"Sudah lama ada disini?" yang dimaksud Nanda adalah kepulangan lelaki ini di kota tercintanya.
"Tidak," sahutnya pendek. "Baru kemarin, Dik," sahutnya lagi dengan tetap menyebut Nanda, adik.
"Saya hanya ingin melihatmu sebelum berangkat ke Ibukota," ujarnya tanpa basa-basi. Lelaki dengan seragam kedinasan ini akan melanjutkan sekolahnya lagi di Ibukota.
Nanda hanya bisa memandangnya. Meski didalam hati Nanda ingin berlari memeluk lelaki ini penuh hangat seperti dulu lagi. Tanpa sungkan. Ya... rasa persaudaraan yang sudah ada sejak mereka masih kanak-kanak.
Tetapi dinding pembatas itu telah berdiri kokoh.
Lelaki ini telah memilih untuk berdiri di dalamnya.
Sejak Nanda menolak pernyataan cinta yang ditawarkan olehnya.
Nanda tertunduk dalam-dalam.
Nanda berusaha menahan rasa haru yang telah menyesakkan dadanya sedari tadi.
"Nanda baik-baik saja, Mas," akhirnya Nanda menyahut dengan helaan nafas yang cukup dalam.
Keduanya kembali dalam diam. Saling menatap ke dalam lubuk hati masing-masing.
Suara adzan memecah kesunyian. Pertemuan sore itu terasa sangat singkat bagi Nanda.
Akhirnya lelaki yang dirindukannya selama bertahun-tahun itu pun berdiri untuk pamit.
"Jaga dirimu baik-baik, Mas," ujar Nanda pelan hampir tak terdengar.
"Jaga dirimu juga, Dik," balasnya kepada Nanda.
Lelaki itu berlalu dari hadapannya dengan luka lama yang masih terbuka.
Tetapi sekali lagi Nanda hanya diam. "Maafkan aku, Mas..," ujarnya dalam hati. Nanda tidak bisa menerima cintanya karena lelaki ini terlalu berharga bagi dirinya.

Tuesday, February 26, 2008

Jagoan

Ketika pagi tadi diriku mulai kehujanan lagi dan batuk kering sudah mengganggu tenggorokanku sedari tadi, terbayang sudah di benakku malam ini aku akan kedinginan lagi seperti malam-malam sebelumnya. Terlebih karena jagoanku tidak bisa tidur tanpa pendingin kamar yang bisa meninabobokannya sampai siang. Padahal keinginan terbesarku adalah bersembunyi di dalam selimut tebal yang hangat. Nyaman.

Sambil membacakan dongeng menjelang tidur, batuk keringku kambuh lagi. Hampir suaraku tak terdengar lagi oleh krucil yang setia menemaniku. Dengan spontan, aku terduduk untuk menahan perut karena tarikan batuk yang cukup kuat. Dengan spontan juga jagoanku ikut bangun dan menawarkan dirinya, "Bunda mau dipijit?". Hah?!? apa tidak salah dengar, pikirku... Karena biasanya dia akan cuek dengan botol susu ditangannya sambil merengek minta untuk terus dibacakan dongeng kelincinya.
"Memang Mas bisa?"
"Bisa, pakai itu ya, Bun?" telunjuk mungilnya sambil menunjuk botol bening dengan tutup putih yang di dalamnya berisi minyak tawon.
"Ndak usah deh... ga usah dipijit. Bunda minta tolong olesin Transpulmin aja ya?"
Dengan sigap tangan-tangan kecilnya mengolesi punggungku.
Hm... tercium aroma segar dan punggung yang hangat oleh olesan tangan mungil jagoanku.
Ternyata jagoanku memang jagoan. Thanks boy...